Pendidikan Kita Mengajarkan Banyak Hal, Kecuali Menjadi Manusia? - Yusep Kurniawan

Breaking

Saturday, June 13, 2026

Pendidikan Kita Mengajarkan Banyak Hal, Kecuali Menjadi Manusia?


Artikel Opini: Setiap kali kita menyaksikan kasus korupsi, penyalahgunaan kewenangan, manipulasi, atau berbagai bentuk ketidakjujuran yang dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi, saya sering bertanya: di mana letak kesalahannya?


Sulit mengatakan bahwa mereka tidak cerdas. Sebagian besar justru merupakan orang-orang yang berhasil melewati berbagai jenjang pendidikan, lulus seleksi yang ketat, bahkan menduduki posisi-posisi strategis. Mereka mampu memahami teori yang rumit, menyelesaikan persoalan teknis, dan mengambil keputusan penting. Namun, mengapa kecerdasan yang dimiliki tidak selalu berjalan seiring dengan empati dan integritas?


Pertanyaan ini membawa saya pada refleksi tentang dunia pendidikan. Selama ini kita sering mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah bagian penting dari tujuan pendidikan. Berbagai program, pelatihan, kurikulum, dan slogan telah menempatkan karakter sebagai prioritas. Hampir tidak ada sekolah yang tidak berbicara tentang kejujuran, tanggung jawab, disiplin, gotong royong, dan kepedulian.


Namun, di balik berbagai kampanye itu, ada kenyataan yang mungkin perlu kita renungkan bersama.


Ketika seorang anak pulang dari sekolah, apa yang paling sering ditanyakan kepadanya? Apakah ia sudah menjadi pribadi yang jujur? Apakah ia telah membantu temannya yang kesulitan? Apakah ia menunjukkan rasa hormat kepada orang lain?


Atau justru kita lebih sering bertanya, "Nilaimu berapa?" dan "Rankingmu sekarang berapa?"


Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu sesungguhnya menggambarkan apa yang benar-benar kita anggap penting. Kita mungkin berbicara tentang karakter, tetapi yang sering mendapat penghargaan adalah angka. Kita mengajarkan tentang integritas, tetapi yang menjadi ukuran keberhasilan tetaplah capaian akademik yang dapat dihitung dan dibandingkan.


Akibatnya, peserta didik tumbuh dalam budaya yang sangat kompetitif. Mereka belajar bahwa menjadi lebih unggul dari orang lain adalah tujuan utama. Mereka dilatih untuk mencapai target, memenangkan persaingan, dan memperoleh pengakuan. Semua itu tentu tidak salah. Persoalannya muncul ketika kompetisi tidak lagi diimbangi dengan pembentukan nurani.


Dalam kondisi seperti itu, pendidikan berisiko menghasilkan individu yang sangat cakap dalam meraih keberhasilan, tetapi kurang memiliki kepekaan terhadap dampak tindakannya terhadap orang lain. Mereka tahu bagaimana mencapai tujuan, tetapi tidak selalu bertanya apakah cara yang ditempuh sudah benar. Mereka memahami apa yang menguntungkan dirinya, tetapi tidak selalu mempertimbangkan apa yang adil bagi sesamanya.


Mungkin inilah sebabnya kita kerap menemukan paradoks dalam kehidupan berbangsa. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, tidak selalu berarti semakin tinggi pula integritasnya. Semakin cerdas seseorang, tidak otomatis semakin besar empatinya. Kecerdasan intelektual ternyata tidak dengan sendirinya melahirkan kebijaksanaan moral.


Karena itu, persoalan pendidikan hari ini bukan semata-mata bagaimana meningkatkan nilai akademik atau prestasi belajar. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan bahwa kecerdasan tumbuh bersama karakter. Bagaimana memastikan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diraih seseorang, tetapi juga dari bagaimana ia meraihnya.


Bangsa ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Yang lebih kita butuhkan adalah orang-orang yang mampu menggunakan kepintarannya dengan penuh tanggung jawab. Sebab sejarah menunjukkan bahwa kerusakan terbesar sering kali bukan dilakukan oleh orang yang tidak tahu apa-apa, melainkan oleh orang-orang cerdas yang kehilangan kompas moralnya.


Mungkin sudah saatnya kita berhenti sekadar bertanya, "Seberapa pintar anak-anak kita?" dan mulai bertanya, "Menjadi manusia seperti apa mereka sedang kita bentuk?"


Karena pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan warganya, tetapi juga oleh karakter yang mengarahkan kecerdasan tersebut. (YK)

No comments:

Post a Comment