![]() |
| Gambar: Ilustrasi Ai |
Oleh: Yusep Kurniawan
Abstrak
Media sosial telah menjadi ruang yang mempercepat penyebaran informasi sejarah, termasuk berbagai narasi mengenai silsilah Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Salah satu klaim yang ramai diperbincangkan menyebut bahwa Benjamin Thomas Sigar, yang merupakan salah satu leluhur Prabowo dari garis ibu, adalah tokoh yang menangkap Pangeran Diponegoro pada akhir Perang Jawa (1825–1830). Klaim tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai penilaian politik, termasuk penyebutan Prabowo sebagai "keturunan murni Londo Ireng". Artikel ini bertujuan menelaah klaim tersebut menggunakan pendekatan historiografi dengan mengacu pada sumber primer dan literatur akademik yang kredibel. Kajian ini menunjukkan bahwa Benjamin Thomas Sigar memang merupakan perwira Pasukan Tulungan (Hulptroepen) yang membantu pemerintah kolonial Belanda dalam Perang Jawa. Namun, berdasarkan sumber-sumber akademik utama yang tersedia saat ini, belum ditemukan bukti primer yang secara tegas menyatakan bahwa Benjamin Thomas Sigar adalah tokoh yang secara langsung menangkap Pangeran Diponegoro.
Kata Kunci: Benjamin Thomas Sigar, Pangeran Diponegoro, Prabowo Subianto, Perang Jawa, historiografi.
Pendahuluan
Sejarah sering kali menjadi objek interpretasi yang beragam, terlebih ketika dikaitkan dengan tokoh politik kontemporer. Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi narasi yang menghubungkan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan Benjamin Thomas Sigar. Narasi tersebut menyebut bahwa Benjamin Thomas Sigar merupakan penangkap Pangeran Diponegoro sehingga muncul kesimpulan bahwa Prabowo adalah keturunan tokoh yang membantu kolonial Belanda.
Persoalan sejarah semacam ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui opini, narasi media sosial, maupun tradisi lisan. Historiografi modern menuntut setiap klaim diuji menggunakan sumber primer, arsip, serta kajian akademik yang dapat dipertanggungjawabkan (Carr, 1961; Tosh, 2015). Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara fakta sejarah, tradisi lisan, dan interpretasi yang berkembang di ruang publik.
Benjamin Thomas Sigar dalam Catatan Sejarah
Benjamin Thomas Sigar (1790–1879) merupakan tokoh Minahasa yang dikenal sebagai Kapten Pasukan Tulungan (Hulptroepen). Pasukan ini dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai pasukan bantuan yang berasal dari Minahasa untuk mendukung operasi militer selama Perang Jawa (Carey, 2007; Ricklefs, 2008).
Dalam berbagai literatur mengenai Perang Jawa, keberadaan Pasukan Tulungan memang diakui sebagai bagian dari strategi militer Belanda menghadapi pasukan Diponegoro. Namun demikian, karya-karya akademik tersebut lebih banyak menjelaskan peran kolektif pasukan bantuan daripada menempatkan Benjamin Thomas Sigar sebagai tokoh utama dalam penangkapan Diponegoro.
Dengan demikian, fakta sejarah yang dapat dipastikan adalah Benjamin Thomas Sigar merupakan perwira yang bertugas membantu operasi militer Belanda selama Perang Jawa. Adapun peran spesifiknya dalam proses penangkapan Diponegoro masih memerlukan dukungan bukti primer yang lebih kuat.
Penangkapan Pangeran Diponegoro Menurut Historiografi
Peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro merupakan salah satu episode sejarah Indonesia yang telah banyak diteliti. Peter Carey (2007; 2014), yang selama puluhan tahun meneliti Perang Jawa berdasarkan arsip Belanda dan naskah Jawa, menjelaskan bahwa penangkapan Diponegoro terjadi pada 28 Maret 1830 di Magelang setelah memenuhi undangan perundingan dari Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock.
Perundingan tersebut berakhir dengan penangkapan Diponegoro atas perintah De Kock. Setelah itu, Diponegoro diasingkan ke Manado sebelum akhirnya dipindahkan ke Benteng Rotterdam, Makassar, hingga wafat pada tahun 1855 (Carey, 2014).
Hal yang menarik adalah karya-karya Peter Carey, Ricklefs, maupun naskah Babad Diponegoro yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World tidak secara eksplisit menyebut Benjamin Thomas Sigar sebagai tokoh yang menangkap Diponegoro. Ketiadaan penyebutan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa Benjamin Thomas Sigar tidak terlibat sama sekali dalam operasi militer, tetapi menunjukkan bahwa belum terdapat bukti primer yang dapat memastikan ia sebagai pelaku penangkapan secara langsung.
Dalam metodologi sejarah, kesimpulan semacam ini jauh lebih tepat dibandingkan menyatakan sesuatu yang tidak didukung oleh sumber primer.
Mengapa Klaim Itu Muncul?
Dari perspektif historiografi, munculnya klaim bahwa Benjamin Thomas Sigar adalah penangkap Diponegoro dapat dipahami melalui beberapa kemungkinan.
Pertama, Benjamin Thomas Sigar memang merupakan bagian dari Pasukan Tulungan yang ikut mendukung operasi militer Belanda pada fase akhir Perang Jawa. Keterlibatan tersebut memungkinkan berkembangnya tradisi lisan yang kemudian menempatkan dirinya sebagai tokoh utama dalam peristiwa penangkapan.
Kedua, sejarah keluarga atau family history sering kali berkembang melalui pewarisan cerita antargenerasi. Tradisi lisan memiliki nilai sejarah, tetapi dalam penelitian akademik tetap harus diverifikasi menggunakan arsip dan sumber primer.
Ketiga, perkembangan media sosial membuat narasi sejarah sering kali disederhanakan menjadi kalimat yang provokatif sehingga kehilangan konteks sejarah yang sebenarnya.
Genealogi Prabowo Subianto
Berbagai catatan silsilah menunjukkan bahwa Benjamin Thomas Sigar merupakan salah satu leluhur Presiden Prabowo Subianto melalui garis ibu. Akan tetapi, secara genealogis seseorang memiliki banyak garis keturunan sehingga tidak tepat menyimpulkan identitas hanya berdasarkan satu leluhur.
Prabowo juga berasal dari keluarga Djojohadikusumo melalui garis ayah. Keluarga tersebut dikenal luas dalam sejarah Indonesia melalui tokoh-tokoh seperti Prof. Sumitro Djojohadikusumo dan R.M. Margono Djojohadikusumo. Oleh sebab itu, mengaitkan identitas Prabowo hanya dengan Benjamin Thomas Sigar merupakan penyederhanaan terhadap struktur genealogi yang jauh lebih kompleks.
Menelaah Istilah "Londo Ireng"
Istilah "Londo Ireng" bukan merupakan istilah akademik dalam ilmu sejarah maupun antropologi. Istilah tersebut lebih merupakan ekspresi sosial-politik yang berkembang dalam masyarakat untuk menggambarkan kelompok pribumi yang dianggap berpihak kepada pemerintah kolonial.
Penggunaan istilah tersebut terhadap seseorang berdasarkan tindakan salah satu leluhurnya tidak memiliki dasar metodologis dalam kajian sejarah. Historiografi modern justru menempatkan tindakan setiap tokoh dalam konteks ruang, waktu, dan kondisi sosial-politik zamannya, bukan menghakimi keturunannya pada masa kini.
Kesimpulan
Berdasarkan kajian historiografi dan sumber-sumber akademik utama, Benjamin Thomas Sigar merupakan perwira Pasukan Tulungan dari Minahasa yang membantu pemerintah kolonial Belanda selama Perang Jawa (1825–1830). Ia juga merupakan salah satu leluhur Presiden Prabowo Subianto dari garis ibu.
Namun demikian, berdasarkan sumber-sumber primer dan kajian historiografi yang tersedia hingga saat ini, belum ditemukan bukti yang dapat memastikan bahwa Benjamin Thomas Sigar merupakan tokoh yang secara langsung menangkap Pangeran Diponegoro. Oleh karena itu, klaim yang berkembang di media sosial perlu dipahami secara kritis dan tidak dijadikan fakta sejarah tanpa dukungan bukti primer.
Kajian ini juga menunjukkan pentingnya membedakan antara tradisi lisan, narasi populer, dan fakta historiografis. Sejarah harus dibangun di atas sumber yang dapat diverifikasi sehingga tidak menjadi alat untuk membentuk stigma ataupun legitimasi politik terhadap tokoh-tokoh masa kini.
Daftar Pustaka
Carr, E. H. (1961). What is history? Penguin Books.
Carey, P. (2007). The power of prophecy: Prince Dipanagara and the end of an old order in Java, 1785–1855 (2nd ed.). KITLV Press.
Carey, P. (2014). Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785–1855). Penerbit Buku Kompas.
Kumar, A. (1976). Surapati: Man and legend: A study of three Babad traditions. E.J. Brill.
Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia modern 1200–2008. Serambi Ilmu Semesta.
Tosh, J. (2015). The pursuit of history: Aims, methods and new directions in the study of history (6th ed.). Routledge.
UNESCO. (2013). Babad Diponegoro (The autobiography of Prince Diponegoro). UNESCO Memory of the World Register.
Vlekke, B. H. M. (2008). Nusantara: Sejarah Indonesia. Kepustakaan Populer Gramedia.

No comments:
Post a Comment