KI NGABEHI SOERODIWIRJO: Sang Perintis Persaudaraan Setia Hati dan Peletak Dasar Pencak Silat Setia Hati - Yusep Kurniawan

Breaking

Sunday, August 23, 2026

KI NGABEHI SOERODIWIRJO: Sang Perintis Persaudaraan Setia Hati dan Peletak Dasar Pencak Silat Setia Hati



Oleh: Drs. H. Joko Wiyono MR, M.Si.


Artikel: Ki Ngabehi Soerodiwirjo, yang oleh para pengikut dan pencinta sejarah pencak silat lebih dikenal dengan sebutan Eyang Suro, merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah perkembangan pencak silat di Indonesia. Namanya sangat erat dengan lahir dan berkembangnya Persaudaraan Setia Hati, sebuah tradisi perguruan dan persaudaraan pencak silat yang kemudian melahirkan berbagai perkembangan organisasi Setia Hati di tanah air.


Masa Muda dan Perjalanan Menuntut Ilmu


Nama kecil Ki Ngabehi Soerodiwirjo banyak disebut sebagai Muhamad Masdan. Mengenai tahun kelahirannya, terdapat perbedaan dalam berbagai sumber sejarah. Sejumlah sumber dari lingkungan Setia Hati menyebut tahun 1876, sementara sumber lain menyebut 1869. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa riwayat awal kehidupan tokoh ini perlu ditempatkan secara hati-hati dalam penulisan sejarah.


Sejak usia muda, Soerodiwirjo dikenal memiliki ketertarikan yang kuat terhadap ilmu bela diri. Perjalanannya tidak berhenti pada satu daerah atau satu perguruan. Ia disebut pernah mempelajari berbagai bentuk pencak silat di sejumlah wilayah, antara lain Jawa, Bandung dan Priangan, Sumatra, Padang, Lampung, hingga Aceh.


Perjalanan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan wawasan bela dirinya. Berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya kemudian dipadukan dengan pemikiran mengenai kehidupan batin, kedisiplinan, serta hubungan antarmanusia.


Salah satu sumber sejarah Setia Hati menyebut bahwa dalam perjalanan bergurunya, Soerodiwirjo mempelajari berbagai aliran pencak silat dan kemudian mengembangkan suatu sistem bela diri yang menjadi dasar bagi aliran Setia Hati.


Dari Sedulur Tunggal Kecer Menuju Setia Hati


Sekitar awal abad ke-20, perjalanan Soerodiwirjo memasuki fase penting. Pada 1903, ia mendirikan sebuah persaudaraan yang dalam sejumlah sumber disebut Sedulur Tunggal Kecer, sementara sistem pencak silatnya dikenal dengan nama Djojo Gendilo Tjipto Muljo.


Konsep persaudaraan menjadi bagian penting dalam ajaran yang dikembangkannya. Pencak silat tidak semata-mata ditempatkan sebagai kemampuan untuk menghadapi lawan, tetapi juga sebagai sarana membentuk watak, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan hubungan persaudaraan.


Dalam perkembangannya, nama Setia Hati semakin melekat dengan persaudaraan dan aliran pencak silat yang dikembangkan Soerodiwirjo. Pada sekitar 1917, ketika ia telah menetap di Madiun, Persaudaraan Setia Hati berkembang di kawasan Winongo, Madiun.


Pencak Silat sebagai Jalan Pembentukan Diri


Warisan terbesar Soerodiwirjo tidak hanya terletak pada teknik bela diri. Lebih dari itu, ia meninggalkan gagasan bahwa kemampuan lahiriah harus berjalan bersama dengan pembentukan batin dan kepribadian.


Dalam tradisi Setia Hati, pencak silat dipandang sebagai bagian dari perjalanan untuk mengenal diri, mengendalikan hawa nafsu, membangun keberanian, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.


Karena itu, sosok Eyang Suro dalam sejarah pencak silat tidak hanya dikenang sebagai seorang pendekar, tetapi juga sebagai seorang guru yang menempatkan persaudaraan sebagai unsur penting dalam kehidupan.


Gagasan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa nama Setia Hati kemudian berkembang luas dan memiliki pengaruh besar terhadap sejarah pencak silat di Indonesia.


Hubungan dengan Perkembangan Perguruan Setia Hati


Dalam perjalanan sejarahnya, ajaran Setia Hati berkembang melalui murid-murid dan penerusnya. Salah satu tokoh yang kemudian mempunyai peranan besar dalam sejarah perkembangan Setia Hati adalah Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yang pada 1920-an mendirikan perkembangan perguruan yang kemudian dikenal sebagai Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).


Karena itu, ketika membicarakan sejarah berbagai organisasi dan perguruan yang menggunakan nama Setia Hati, penting untuk membedakan antara tokoh pendiri atau peletak dasar aliran Setia Hati dengan organisasi-organisasi yang berkembang kemudian.


Sejarah Setia Hati sendiri memiliki perjalanan yang panjang dan kompleks. Sejumlah penelitian dan tulisan sejarah mencatat adanya perkembangan organisasi serta perbedaan pandangan di antara tokoh-tokoh penerusnya. Namun, nama Soerodiwirjo tetap berada pada bagian awal dari mata rantai sejarah tersebut.


Warisan yang Melampaui Generasi


Ki Ngabehi Soerodiwirjo wafat pada 10 November 1944 dan dimakamkan di Winongo, Madiun.


Meskipun telah puluhan tahun berlalu sejak kepergiannya, namanya tetap dikenang dalam sejarah pencak silat Indonesia. Warisan yang ditinggalkannya berkembang melalui berbagai perguruan, organisasi, dan generasi pesilat.


Bagi para pengikut tradisi Setia Hati, Eyang Suro bukan sekadar nama dalam sejarah. Ia merupakan simbol dari perjalanan panjang pencak silat yang memadukan olah raga, olah rasa, kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan persaudaraan.


Di tengah perkembangan pencak silat modern, nilai-nilai tersebut tetap relevan. Kemampuan bela diri idealnya tidak menjadikan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi justru semakin mampu menghormati sesama, menjaga diri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Menjaga Warisan, Menjaga Persaudaraan


Kisah Ki Ngabehi Soerodiwirjo memberikan pelajaran bahwa sebuah warisan budaya tidak hanya hidup melalui gerakan dan teknik, tetapi juga melalui nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.


Pencak silat Setia Hati telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Di balik berbagai perkembangan dan dinamika yang terjadi kemudian, terdapat sebuah fondasi penting yang terus dikenang: persaudaraan dan pembentukan manusia yang berkarakter.


Oleh sebab itu, mengenang Eyang Suro bukan sekadar mengenang seorang tokoh masa lalu. Mengenang beliau juga berarti mengingat kembali pesan penting bahwa ilmu harus disertai budi pekerti, kekuatan harus disertai pengendalian diri, dan persaudaraan harus dijaga dengan ketulusan.


Ki Ngabehi Soerodiwirjo — Eyang Suro — akan tetap menjadi salah satu nama penting dalam lembar panjang sejarah pencak silat Indonesia dan perjalanan Persaudaraan Setia Hati.



DAFTAR PUSTAKA


Matanasi, Petrik. 2025. “Persaudaraan Setia Hati Pernah Dicap Kiri.” Historia, 1 Juli 2025.


Mulyana, Agus. 2016. Pencak Silat Setia Hati: Sejarah, Filosofi, Adat Istiadat. Bandung: Tulus Pustaka.


Nurfaizah, Hesty. 2018. Adat Keceran Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate dalam Perspektif Teori Penanda dan Petanda De Saussure. Skripsi. Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.


Putri, Diah Al Benni. 2023. Organisasi Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate 1922–1948. Skripsi. Jambi: Universitas Jambi.


Persaudaraan Setia Hati Terate. 2022. “Sejarah SH Terate (Bagian 1): Masa Perintisan.” SH Terate Madiun.


Persaudaraan Setia Hati Terate Kota Blitar. 2020. “Sejarah SH Terate.” SH Terate Kota Blitar.


Persaudaraan Setia Hati Terate Jombang. 2024. “Sejarah PSHT, Organisasi Silat Persaudaraan Setia Hati Terate.” PSHT Jombang, 13 Desember 2024.

No comments:

Post a Comment