Mengajar Itu Soal Hati, Bukan Sekadar Penguasaan Teknologi - Yusep Kurniawan

Breaking

Thursday, March 19, 2026

Mengajar Itu Soal Hati, Bukan Sekadar Penguasaan Teknologi

Gambar Ilustrasi Meta AI
Gambar: Meta AI
Mengajar Itu Soal Hati, Bukan Sekadar Penguasaan Teknologi

Di tengah derasnya arus digitalisasi pendidikan, muncul anggapan yang kian menguat bahwa guru harus menguasai teknologi, bahkan seolah-olah tanpa teknologi guru tidak lagi mampu mengajar. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris PGRI Kabupaten Banyumas yang juga praktisi pendidikan, Yusep Kurniawan, menilai bahwa pandangan tersebut perlu diluruskan agar tidak menempatkan teknologi secara berlebihan dalam proses pembelajaran.


Menurut Yusep, hakikat mengajar tidak terletak pada alat yang digunakan, melainkan pada proses menuntun tumbuh kembang peserta didik. Ia mengingatkan kembali pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat anak agar berkembang secara optimal. Dalam konteks ini, guru memiliki peran utama dalam membentuk karakter, menumbuhkan minat dan bakat, serta mengembangkan potensi akademik siswa secara utuh.


Ia menegaskan bahwa pembelajaran yang berkualitas tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi digital. 


“Pembelajaran mendalam atau deep learning justru menekankan pada pemahaman yang bermakna, refleksi, dan keterkaitan dengan kehidupan nyata. Itu sangat ditentukan oleh kompetensi guru, bukan semata oleh teknologi,” ujarnya.


Lebih lanjut, Yusep menjelaskan bahwa profesionalisme guru bertumpu pada empat kompetensi utama, yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi tersebut merupakan fondasi yang tidak dapat digantikan oleh perangkat teknologi apa pun. Guru yang memiliki kompetensi tersebut tetap mampu menghadirkan pembelajaran bermakna, bahkan dalam kondisi keterbatasan sarana.


Meski demikian, ia tidak menampik pentingnya teknologi dalam pendidikan saat ini. Yusep mengakui bahwa perkembangan zaman menuntut guru untuk adaptif, termasuk dalam memanfaatkan teknologi digital. Hal ini juga sejalan dengan ketentuan dalam Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025 yang mewajibkan guru memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.


Namun, menurutnya, ketentuan tersebut harus dimaknai secara bijak dan kontekstual. 


“Yang dimaksud memanfaatkan teknologi bukan berarti guru harus selalu menggunakan teknologi dalam setiap pembelajaran, apalagi sampai menganggap tanpa teknologi guru tidak bisa mengajar. Itu pemahaman yang keliru,” tegasnya.


Ia menambahkan, dalam praktik di lapangan, masih banyak guru yang mampu menghadirkan pembelajaran berkualitas meskipun dengan keterbatasan fasilitas teknologi. Kreativitas, kedekatan emosional dengan siswa, serta kemampuan pedagogik yang kuat menjadi kunci utama keberhasilan pembelajaran.


Karena itu, Yusep menilai penting untuk menempatkan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai penentu utama kualitas pembelajaran. Guru tetap menjadi aktor utama dalam proses pendidikan, sementara teknologi berfungsi untuk memperkaya dan memperluas pengalaman belajar.


“Guru hebat bukan yang paling canggih teknologinya, tetapi yang mampu menuntun muridnya berkembang secara utuh. Teknologi itu penting, tetapi bukan segalanya,” pungkasnya.


Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa integrasi teknologi dalam pembelajaran harus tetap berpijak pada tujuan utama pendidikan, yakni membentuk manusia yang berkarakter, berpengetahuan, dan mampu mengembangkan potensinya secara optimal di tengah perubahan zaman. (YK)

No comments:

Post a Comment